Home Berita Plesiran ke Singapura (1)

Plesiran ke Singapura (1)

13
0
SHARE

Tak cukup hanya melihat-lihat negeri Singapura dari majalah dan internet, akhirnya saya berkesempatan untuk mengunjunginya lagi awal Juni lalu. Bersama dengan rekan-rekan, perjalanan kali ini membawa misi untuk melihat langsung segala hal yang berkaitan dengan desain dan tata rancang kota Singapura dari dekat. Bandara Changi, MRT, kawasan water front, city landmark, zoning, city link, Chinatown, museum management, shopping area, merupakan hal yang saya pelajari selama 5 hari di sana.

Bandara Changi terletak di sebelah timur Singapura. Bandara internasional ini mampu melayani banyak penerbangan dan ribuan penumpang setiap harinya. Sekilas dari luar tampak bandara ini biasa saja, namun begitu masuk ke dalam, terlihat sekali Changi begitu memanjakan penumpang yang datang dari berbagai negara. Karpet yang elok dan empuk, pendingin udara, air minum, toilet bersih, tenant dan toko-toko produk ternama di area belanja, ruang tunggu yang luas dan nyaman dengan kursi-kursi serta titik-titik colokan listrik dan usb untuk mengisi baterai. Tenant-tenant makanan dan muniuman juga tesebar di beberapa titik di Changi.

The Social Tree

Di Changi ini ada sebuah pohon besar artifisial yang dinamakan “The Social Tree”. Pohon ini khusunya diperuntukkan bagi wisatawan yang baru pertama kali datang di Singapura untuk sekadar berbagi kepada keluarga dan rekan sejawat bahwa dirinya sudah tiba di negeri singa. Delapan buah e-kios yang disediakan di sekeliling pohon seakan tak cukup untuk memenuhi keinginan wisatawan yang mengantri hendak menggunakannya.

Changi terdiri atas 3 buah terminal, yaitu T1, T2 dan T3. Penumpang dapat menuju ke T2 dari T1 dengan menggunakan sky train berupa kereta mini yang terdiri dari dua gerbong. Dengan begitu penumpang tidak perlu jauh-jauh berjalan kaki menuju ke lain terminal. Penumpang juga bisa langsung menuju pusat kota dengan menaiki MRT yang terhubung langsung dengan bandara.

Changi Airport

Transportasi umum di Singapura sebagian besar dilayani oleh angkutan massal yang dinamakan Mass Rapid Transit (MRT) berupa kereta dengan beberapa gerbong yang dapat mengangkut orang banyak dari titik ke titik penghubung pusat keramaian kota. Dengan tiket terusan berupa kartu deposit yang dapat dibeli per bulan, penumpang maupun wisatawan dapat menikmati perjalanan secara aman, nyaman dan cepat.

Selain MRT, terdapat bus umum dan taksi yang masih baik kondisinya. Tidak ada ojek di sini, becak pun hanya terlihat beberapa di kawasan tertentu. Seperti MRT, bus di Singapura menggunakan sistem deposit dengan kartu yang bisa ditempel pada saat naik turun bus. Bisa juga membayar dengan koin, namun hal ini cukup merepotkan. Naik taksi juga cukup nyaman dengan hanya menyebutkan tujuan, sebentar saja duduk sudah sampai dengan harga yang wajar. Namun harga bisa saja membengkak apabila taksi melalui jalur cepat yang menggunakan sistem ERP (electronic road pricing).

MRT

Singapura sejak dini membangun sistem transportasi terpadu mengingat luas negaranya yang tidak terlalu besar. Tidak seperti Jakarta dan Bandung yang baru-baru ini saja mulai mewacanakan MRT setelah tejadi kemacetan dimana-mana. Hal ini terjadi karena pemerintah kota lebih mengutamakan transportasi pribadi dan pajaknya dibandingkan dengan transportasi publik. Akhirnya yang diuntungkan adalah produsen otomotif dan pemilik SPBU.
Saya sampai di penginapan di sekitar Clarke Quay dalam beberapa menit saja dari stasiun Changi dengan menggunakan MRT. Penginapan khusus untuk backpacker ini cukup murah dengan kamar dua tempat tidur susun. Memang kamar hotel bintang tiga di Singapura ini bisa dibilang cukup mahal bila dibandingkan dengan hotel di Bandung.