Home Plesir Plesir ke Singapura (2)

Plesir ke Singapura (2)

7
0
SHARE

Pinggir sungai identik dengan sampah dan pemukiman kumuh, namun hal ini tidak akan ditemui di Singapura. Sungai biasanya menjadi halaman belakang rumah, gedung perkantoran, hotel dan restoran bahkan kalau mungkin dipersempit demi sebidang tanah, tetapi di Singapura dijadikan sebagai halaman depan dan daya tarik orang untuk datang dan berwisata.

Perahu di Clark Quay

Seperti di kawasan Clarke Quay, Boat Quay dan Marina Bay, pinggiran sungai Singapura ditata sedemikian rupa sehingga apik rupawan dan bersih menawan siapa pun yang datang. Beberapa perahu bermotor hilir mudik menelusuri sungai untuk mengantar wisatawan menikmati view deretan shop houses tua dan gedung-gedung perkantoran modern lalu berputar di sekitar patung Marlion, Art & Science Museum dan Marina Bay Sands. Siapa pun tak menyangka dulunya kawasan ini merupakan kawasan kumuh seperti terlihat di tepian sungai Cikapundung Bandung sekarang.

Menikmati Clarke Quay di sore hari adalah waktu yang tepat. Di sini kita dapat duduk-duduk santai sambil memperhatikan riak-riak kecil sungai yang berwarna abu-abu kecoklatan. Kadang terlihat ikan-ikan berseliweran di tepiannya. Kura-kura kecil juga kerap menampakkan diri. Dari sisi sini terlihat perahu-perahu kayu berlabuh di seberang menurunkan muatannya. Nampak pula tenda-tenda tempat makan berwarna putih menambah semarak suasana.

Tepian Clark Quay

Di tepian sungai terdapat undakan yang memungkinkan orang untuk duduk atau naik turun perahu. Di area pedestriannya yang lebar juga terdapat bangku-bangku untuk beristirahat di bawah rindangnya pepohonan. Bila matahari sudah condong ke barat, berjalanlah ke arah timur melalui jalan setapak dan lorong menuju Elgin Bridge. Sambil berjalan perlahan, terlihat bangunan Marina Bay Sands berdiri kokoh seperti menyangga Noah Ark di ketiga puncaknya. Sampai di jembatan, berdiri di tengah-tengahnya sambil memandang ke arah Clarke Quay merupakan kenikmatan tersendiri.

Jembatan tua Elgin yang berdiri sejak tahun 1863 ini masih terlihat kokoh. Strukturnya yang tebal dan rigid membuat jembatan ini tak lapuk dimakan usia. Seperti benda-benda peninggalan sejarah lainnya di Singapura, wisatawan dapat membaca keterangan yang terpampang di dinding jembatan ini mengenai latar belakang pembangunannya. Saya pikir begitu terpadunya sistem informasi kota Singapura sehingga wisatawan dapat berwisata secara mandiri tanpa tersesat.

Sistem informasi tidak melulu berbentuk aplikasi komputer, tetapi bisa juga dalam bentuk hardcopy yang bisa dibaca, dilihat dan dibawa kemana-mana. Contohnya brosur, leaflet, signage, rambu-rambu penunjuk arah, jadwal kereta, bus dan pesawat, website, aplikasi mobile, multimedia interaktif, plakat, prasasti dan sebagainya. Kota Singapura memiliki sistem informasi kota yang terpadu dan terintegrasi semacam itu yang bisa diakses oleh pengunjung, baik untuk urusan bisnis maupun wisata, sebelum tiba maupun sesudah mendarat.

Dari Elgin Bridge menuju ke timur menuruni anak tangga di sebelah utara menyusuri sisi Boat Quay. Seorang pelukis mungkin sedang asyik merekam suasana sore menjelang terbenam matahari dari sini. Di dekat sinilah titik pendaratan Raffles pada tahun 1819 di Singapura yang ditandai dengan sebuah monumen dirinya berwarna putih. Di sini juga dapat ditemui patung-patung diorama yang menggambarkan sungai Singapura jaman dahulu yang ramai oleh aktivitas perdagangan. Sebelum sampai di ujung jalan, terdapat Asian Civilization Museum yang menyimpan banyak artefak dan benda budaya dari negeri-negeri Asia.

Monumen Raffles

Lalu menyeberangi sungai melalui Cavenagh Bridge menuju The Fullerton Hotel. Di sini sudah banyak fotografer dengan senjata amunisinya siap mengabadikan detik-detik tenggelamnya sang surya. Sayang sore itu awan mendung menggelayut di ufuk barat, namun tak lama kemudian sirna. Bias-bias cahaya kuning kemerahan lalu menghias langit berpadu dengan birunya langit. Tak sedikit pelancong yang berdecak kagum menikmati pemandangan ini dari tepi Boat Quay di bawah gedung-gedung perkantoran yang tinggi menjulang.

Senja di the Fullerton Hotel

Malam menjelang, lampu-lampu dinyalakan dan sinarnya memantul di permukaan sungai. Perahu-perahu yang berlalu tak lupa juga menyalakan lampu warna-warninya. Romantis.

Pulangnya saya melalui jalan di sisi sebelah selatan Boat Quay melewati shop houses yang kini menjelma menjadi restoran, cafe dan bar yang sangat ramai. Bangunan-bangunan tua ini tetap dipertahankan keberadaannya dan dipercantik dengan cat yang mencolok. Berbeda dengan di kota Bandung, bangunan tua ditelantarkan dan menjadi rapuh bahkan dihancurkan. Padahal bangunan tua itu merupakan harta karun yang tak ternilai harganya, baik bagi dunia sejarah, pendidikan maupun pariwisata.

Pusat kuliner di Boat Quay

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here